TEORI LINGKUNGAN
MAKALAH
TEORI
LINGKUNGAN

![]()
![]()
Oleh:
PERO SAPUTRA
1541675
TEKNIK
ELEKTRO
UNIVERSITAS
GUNADARMA
DEPOK
2020
DAFTAR ISI
RANTAI
MAKANAN PADA EKOSISTEM LAUT DARI HASIL JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai panjang pantai
lebih dari 81.000 km, pulau lebih dari 17.508 dan ekosistem terumbu karang yang
luas (± 51.000 km2 ). Terumbu karang mempunyai fungsi antara lain untuk
rekreasi (wisata bahari), produksi (sumber bahan pangan dan ornamental), nilai
konservasi (sebagai pendukung proses ekologis dan penyangga kehidupan pesisir,
sumber sedimen pantai, dan melindungi pantai dari ancaman abrasi. Nilai terumbu
karang di Indonesia secara ekonomi adalah 4,2 milyar USD dari aspek perikanan,
wisata dan perlindungan laut. Belum termasuk nilai manfaat terumbu karang
sebagai pelindung pantai, sumber pangan, obat-obatan dan pariwisata (Suharsono,
2010). Pulau Kangean di Kabupaten Sumenep merupakan salah satu potensi wisata
bahari yang belum terolah dengan baik, secara geografis terletak diantara
6050oLS-115025o BT (Sulma, 2000). Daerah kepulauan di Sumenep belum terdapat
kegiatan industri modern karena letak yang relatif jauh. Jalan darat Surabaya-Sumenep
sekitar 200 km, waktu tempuh kapal laut dari Sumenep ke Pulau Kangean sekitar 4
jam. Kangean mempunyai potensi wisata bahari yang sangat besar yaitu taman laut
dengan ekosistem terumbu karang sangat indah, tetapi terancam mengalami
kerusakan akibat aktivitas manusia. Aktivitas manusia dalam upaya pemenuhan
kebutuhan ekonomi menjadi penyebab utama kerusakan terumbu karang. Jika masalah
keterbatasan ekonomi masyarakat dapat diatasi, upaya penangkapan ikan yang
tidak ramah lingkungan seharusnya dapat dikendalikan. Salah satu upaya yang
ditempuh ialah memanfaatkan kekayaan alam itu sendiri, khususnya terumbu karang
guna menunjang perekonomian masyarakat kepulauan. Ekowisata merupakan salah
satu kegiatan yang tepat untuk pengembangan wisata bahari, sekaligus mendukung
konservasi ekosistem terumbu karang di Pulau Kangean. Ekosistem terumbu karang
merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting, karena menjadi sumber
kehidupan bagi biota laut. Ekosistem terumbu karang dapat terbentuk dari 480
spesies karang, dan di dalamnya hidup lebih dari 1.650 spesies ikan, molusca,
crustacean, sponge, algae dan seagrass (Buddemier et al., 2004). Fungsi utama
terumbu karang adalah sebagai tempat memijah, daerah asuhan biota laut dan
sebagai sumber plasma nutfah (Oceana, 2006). Terumbu karang adalah endapan
masif yang berupa kalsium karbonat, dihasilkan oleh hewan karang Cnidaria yang
bersimbiosis dengan Zooxanthella. Karang memiliki variasi bentuk pertumbuhan
koloni yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan perairan, seperti intensitas
cahaya matahari, hydrodinamis (gelombang dan arus), ketersediaan bahan makanan,
sedimen, subareal exposure dan faktor genetik (English et al., 1994). Populasi
karang yang mendominasi di suatu habitat sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan, sehingga jika kondisi lingkungan sesuai dengan spesies karang
tertentu maka dalam suatu habitat dapat didominasi spesies karang tersebut.
Daerah rataan terumbu biasanya didominasi oleh karang karang kecil yang umumnya
masif dan submasif. Lereng terumbu biasanya ditumbuhi karang-karang bercabang,
sedangkan karang masif lebih banyak mendominasi di terumbu terluar yang
berarus. Oleh karena itu inventarisasi terumbu karang dapat dilakukan dengan
mengumpulkan data berupa persentase penutupan karang hidup, lifeform, dan
jumlah karang. Kelimpahan ikan karang dan kondisi perairan kepulauan yang
terdapat ekosistem terumbu karang yang bisa menjadi dasar untuk mendukung
kesesuaian suatu wilayah untuk dijadikan objek ekowisata bahari.
Hasil
pengamatan persentase tutupan karang dapat diketahui bahwa di perairan bagian
utara Pulau Kangean pada kedalaman 3- 10 meter, rata-rata mempunyai tutupan
karang lebih dari 60% (Tabel 1). Kondisi perairan yang jernih dengan relatif
tidak berombak membuat ekosistem terumbu karang dapat berkembang dengan baik.
Kelompok karang yang menyusun ekosistem terumbu karang di Pulau Kangean terdiri
dari hard coral, soft coral dan rubble. Keberadaan karang dalam bentuk rubble
sebagian besar merupakan dampak dari aktivitas manusia saat mencari ikan dan
membuang sauh. Perairan Pulau Kangean pada kedalaman 3 meter secara umum
memiliki lifeforn komunitas terumbu karang yang relatif sama, rata-rata
terdapat 11 lifeforn yang didominasi oleh Acropora (Gambar 1). Persentase
tutupan karang Acropora diketahui mencapai lebih dari 40%, yang didominasi
Acropora submassive dan Acropora branching. Kondisi ini hampir selalu ditemui
pada setiap ekosistem terumbu karang yang terdapat di perairan lain, yang
mempunyai karakteristik serupa dengan perairan di Pulau Kangean. Menurut
Thamrin (2006), kondisi perairan dengan habitat yang masih relatif
alami,didukung dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi dan sedikit
ditemukan aktivitas manusia, maka pada umumnya Acropora adalah salah satu
karang yang dominan. Menurut Pahlano (2007) bahwa spesies Acropora sp.
mempunyai kemampuan bertahan dan melekat pada subtrat, walaupun sedimentasi
akibat reklamasi sangat tinggi dan melebihi kisaran hidupnya. Bentuk
pertumbuhan coral branching lebih tahan terhadap sedimentasi dibanding coral
massive. Acropora yang mempunyai tipe pertumbuhan bercabang adalah indikasi
awal Acropora dibandingkan dengan spesies karang yang lain, diketahui dapat
beradaptasi dengan baik terhadap fluktuasi lingkungan perairan sehingga
mempunyai daya kompetisi yang tinggi serta harapan hidup yang panjang
(Suharsono, 1998). Perairan Pulau Kangean pada kedalaman 10 meter secara umum
memiliki lifeforn komunitas terumbu karang yang relatif lebih
terjadinya
suksesi lingkungan, yang dalam banyak penelitian selalu menjadi pionir bagi
spesies karang yang lain (Oceana, 2006). Dalam suatu ekosistem terumbu karang, pada
umumnya terdiri dari banyak spesies karang yang memiliki bentuk bervariasi
tetapi laju pertumbuhannya lambat kurang lebih 1 cm/tahun (Beger et al., 2003).
sedikit
dibanding kedalaman 3 meter, yaitu 7 lifeforn yang didominasi oleh coral
massive dan coral branching (Gambar 2). Rata-rata persentase tutupan karang
pada kedalaman 10 meter mencapai 60%, dan tumbuh relatif baik karena penetrasi
cahaya matahari dapat mencapai dasar perairan
Dominasi
suatu spesies karang di suatu habitat seperti di perairan Pulau Kangean,
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan atau habitat tempat karang itu hidup.
Menurut English et al. (1994) pada daerah rataan terumbu biasanya didominasi
karang karang kecil yang berbentuk masif dan submasif. Lereng terumbu biasanya
didominasi karang bercabang. Karang masive mendominasi terumbu terluar pada
perairan yang berarus. Gelombang mempengaruhi perubahan bentuk koloni terumbu.
Karang yang hidup di daerah terlindung gelombang (leeward zones) memiliki
bentuk percabangan ramping dan memanjang. Karang yang hidup di daerah
bergelombang kuat (windward zones) cenderung tumbuh membentuk percabangan
pendek, kuat, merayap atau submasif. Empat faktor dominan yang secara umum
mempengaruhi lifeform, yaitu cahaya, tekanan hidrodinamis (gelombang dan arus),
sedimen dan subareal exposure. Perbedaan lifeform karang tersebut yang menjadi
suatu acuan untuk melihat tutupan karang di satu wilayah. Tingkat kerusakan
ekosistem terumbu karang yang ditemukan pada kedalaman 3 meter berada pada
kisaran 2-13%, sedangkan pada kedalaman 10 meter berada pada kisaran 15-20%.
Karang yang mengalami kerusakan terdiri dari Dead coral dan Dead coral with
Algae. Hal ini dipengaruhi oleh kecerahan perairan dan faktor kedalaman
perairan. Kerusakan terumbu karang yang ditemukan di perairan Pulau Kangean
sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. Hal tersebut dapat
diidentifikasi berdasarkan tanda-tanda kerusakannya, yaitu hancur
berkeping-keping hingga menjadi potongan-potongan kecil tersebar di dasar
perairan (Gambar 3). Sebagian terumbu karang juga terlihat memutih, yang
menandakan sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Menurut McClanahan (2002)
ketika
terumbu karang stress akibat suhu air laut meningkat, sinar ultraviolet dan
perubahan lingkungan lain, maka sel alga simbiosisnya akan hilang sehingga
warnanya berubah menjadi putih dan mati. Laju kerusakan terumbu karang yang
semakin meningkat, dapat menyebabkan sekitar 70% terumbu karang dunia mengalami
kehancuran dalam beberapa dekade. Kenaikan suhu air laut 1-2 0C menyebabkan
terumbu karang stres. Zooxanthellae yang merupakan pewarna jaringan dan
penyedia nutrien-nutrien dasar bagi hewan karang, jika menghilang dan tidak
kembali maka terumbu karang tersebut akan mengalami kematian. Cara menangkap
ikan yang tidak ramah lingkungan diduga menjadi sebab utama kerusakan tersebut
terjadi. Penggunaan bom ikan dan sianida oleh nelayan saat menangkap ikan di
masa lalu menjadi penyebab utama kerusakan ekosistem terumbu karang di Pulau
Kangean. Menurut Wesmacott et al (2000) kerusakan ekosistem terumbu karang
disebabkan oleh dua faktor yaitu alam dan aktivitas manusia. Faktor alam yang
dapat merusak terumbu karang adalah predator (Scarussp., bulu babi, bintang
laut) dan bencana alam (gempa bumi, tsunami, pemanasan global, banjir). Faktor
aktivitas manusia yang dapat merusak terumbu karang adalah; 1) Pengambilan
karang, 2) Penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, 3) Penangkapan
berlebih, 4) Pencemaran air, 5) Kegiatan pembangunan di wilayah pesisir, 6)
Kegiatan pembangunan di wilayah hulu. McClanahan (2002) memprediksi jika
manusia tidak arif dalam menjaga ekosistem terumbu karang, maka pada tahun 2025
laut akan mengalami ketidakseimbangan ekologi. Hal tersebut diakibatkan
rusaknya ekosistem terumbu karang yang menjadi penyangga utama kehidupan di
lautan. Penyebaran penyakit yang semakin meluas, perpindahan spesies dan
perubahan rantai makanan mengiringi perubahan yang terjadi pada ekosistem
terumbu karang. Alga coklat dan averteberata non komersial (bulu babi, bintang
laut, cacing karang) semakin mendominasi di laut yang awalnya menjadi tempat
tumbuh dan berkembangnya terumbu karang. Ekosistem terumbu karang biasanya
sangat kompleks dengan banyak kehidupan di dalamnya, yaitu molusca,
echinodermata, crustacean dan ikan-ikan karang. Spesies ikan
karang
yang ditemukan di perairan Pulau Kangean pada kedalaman 3 meter dengan luas
area pengamatan 125 meter 2 , rata-rata adalah 10 spesies dengan 30 individu
dan di kedalaman 10 meter rata-rata adalah 8 spesies 22 individu. Ikan karang
yang ditemukan di kedalaman 3 dan 10 meter secara umum didominasi oleh spesies
Apogon sp., Chelmon sp., Chaetodon sp., Lethrinus sp., dan Cheilodipterus sp..
Sifat ikan-ikan yang ditemukan tersebut adalah suka bergerombol atau
berpasangan dan biasanya berasosiasi dengan branching coral. Menurut Setiawan
(2006) ikan-ikan karang pada umumnya suka hidup berkelompok dalam spesies yang
sama atau berbeda, misalnya Apogon sp. yang umumnya hidup berkelompok di
sekitar guagua kecil yang terdapat disela-sela branching coral. Keberadaan
karang hidup merupakan faktor utama yang menarik ikan untuk datang, tumbuh dan
berkembang, serta berasosiasi dengan terumbu karang. Ikan berinteraksi secara
langsung dengan memanfaatkan struktur karang sebagai tempat berlindung, tempat
mencari makan dan berkembang biak. Ikan-ikan karang mempunyai sifat hidup
relatif lebih menetap jika dibandingkan dengan ikan-ikan pelagis lain seperti
Sardinela sp. dan Thunus sp.. Keberadaan ikan-ikan karang tersebut akhirnya
menjadikan ekosistem terumbu karang sebagai ekosistem yang banyak dihuni biota
laut. Pengamatan pada 3 stasiun penelitian menunjukkan bahwa perairan Pulau
Kangean mempunyai ekosistem terumbu karang yang masih baik, sehingga ikan-ikan
karang yang ada di dalamnya dapat hidup dan berkembang dengan baik. Kualitas
perairan yang sangat jernih mendukung interaksi yang harmonis antara terumbu
karang, ikan-ikan karang dan lingkungannya. Menurut Chabanet et al. (1997)
persentase tutupan karang hidup dalam suatu ekosistem di perairan, memberikan dampak
positif terhadap tingginya keanekaragaman spesies, dan kelimpahan individu
ikan-ikan karang. Menurut Setiawan (2006) habitat ikan-ikan karang seperti
Lethrinus harak dan Cheilodipterus sp. pada umumnya di perairan dangkal, di
sekitar mangrove, laguna, padang lamun, dan terumbu karang hingga kedalaman 20
meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedalaman 10 meter
keanekaragaman
spesies
ikan-ikan karang, secara keseluruhan lebih sedikit dibandingkan dengan yang
terdapat pada kedalaman 3 meter. Faktor persentase tutupan karang pada
kedalaman 3 meter yang lebih tinggi dibanding kedalaman 10 meter, juga
memberikan dampak terhadap jumlah individu yang ditemukan. Jumlah individu
ikan-ikan karang yang ditemukan pada kedalaman 3 meter, relatif lebih tingi
daripada yang ditemukan pada kedalaman 10 meter. Perairan yang relatif dangkal
didukung persentase tutupan karang yang mencapai 73%, jumlah spesies ikan
karang hingga 10 spesies, perairan yang reatif tenang dan kecerahan hingga ke
dasar perairan, merupakan modal awal untuk menjadikan perairan laut Pulau
Kangean sebagai kawasan ekowisata bahari. Menurut Yulianda (2004) bahwa untuk
mengembangkan suatu kawasan ekowisata bahari perlu mempertimbangkan 6
parameter, yaitu persentase tutupan karang, lifeform, jumlah spesies ikan
karang, kecerahan perairan, kecepatan arus, dan kedalaman.
Persentase
tutupan karang berada pada kisaran 60-73% menunjukkan bahwa kondisi ekosistem
terumbu karang di Pulau Kangean adalah baik, dan didominasi Acropora
submassive, Acropora branching, Coral massive dan Coral branching. Ekosistem
terumbu karang di Pulau Kangean merupakan habitat yang nyaman bagi ikan-ikan
karang seperti spesies Apogon sp., Chelmon sp., Chaetodon sp., Lethrinus sp.,
dan Cheilodipterus sp.
DAFTAR
PUSTAKA
Beger,
M., Jones, G. P., & Munday, P. L. (2003). Conservation of coral reef
biodiversity: a comparison of reserve selection procedures for corals and fishes.
Biological Conservation, 111(1):53- 62. Buddemeier, R. W., Baker, A. C.,
Fautin, D. G., & Jacobs, J. R. (2004). The Adaptive Hypothesis of
Bleaching. Proceeding of the coral health and to desease meeting held in Israel
23-29 April 2003. Israel. 25 pp. Chabanet, P., Ralambondrainy, H., Amanieu, M.,
Faure, G., & Galzin, R. (1997). Relationships between coral reef substrata
and fish. Coral reefs, 16(2): 93-102. English, S., Wilkinson, C., & Baker,
V., (1994). Survey Manual for Tropical Marine Resources. ASEAN – Australia
Marine Science Project Living Coastal Resources. Australia Gomes, E. D., &
Yap, H. T., (1988). Monitoring Reef Condition In Coral Reefs Management Hand
Book. Second Edition. RA Kenchngton and Brydget ET Hudson (Editor). Jakarta.
Unisco Regional Office For Science McClanahan, T. R. (2002). The near future of
coral reefs. Environmental conservation, 29(4):460-483. Oceana. (2006). The
Corals of The Mediterranean. Fondazione Segna. Italia. 86 pp. Johannes, R. E.
(1975). Pollution and Degradation of Coral Reef Communities. In Elsevier
Oceanography Series (Vol. 12, pp. 13-51). Elsevier. Setiawan, F. (2008). Identivikasi
Ikan Karang Dan Invertebrata Laut. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Bogor.
Institut Pertanian Bogor. Suharsono. (2010). Perspektif Biologi dalam
Pengelolaan Sumberdaya Hayati Laut Berkelanjutan. Pidato Ilmiah disampaikan
dalam rangka Peringatan Dies Natalis ke-55 Fakultas Biologi Universitas Gajah
Mada. Suharsono. (1998). Distribusi, Metodologi dan Status Terumbu Karang di
Indonesia. Konperensi Nasional I Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan
Indonesia. PKSPL. IPB Sulma, S. (2000). Aplikasi Penginderaan Jauh dalaln
Kajian Sebaran Karakteristik Dasar Perairan Ekosistem Terumbu Karang di
Kepulauan Kangean, Jawa Timur. Biologi reproduksidan ekologi. Minamandiri
Press. Pekanbaru Westmacott, S., Teleki, K., Wells, S., & West, J. (2000).
Pengelolaan terumbu karang yang telah memutih dan rusak kritis. Yayasan Terumbu
Karang Indonesia. Wilson, J. R., & Green, A. L. (2009). Metode Pemantauan
Biologi Untuk Menilai Kesehatan Terumbu Karang dan Efektivitas Pengelolaan
Kawasan Konservasi Laut di Indonesia (Terjemahan). The Nature Concervancy,
Indonesia Marine Program. Versi, 1. Yulianda, F. (2004). Pedoman analisis
penentuan status kawasan konservasi laut. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Institut Pertanian Bogor. Bogor

Komentar
Posting Komentar